Pada suka nonton TV kan? Pasti pernah liat iklan Paddle Pop yang dijadiin movie itu kan? Yang dubbernya Giring Nidji sama Putri Titian. Tau kan? Tau kan?
Judul filmnya,
Paddle Pop - Begins
Gue yakin nanti bakalan ada lagi sekuelnya, dengan judul,
Paddle Pop - The Dark Knight
Harus banget kah? Haruskah?
January 30, 2012
January 26, 2012
Mereka itu Budak
Gue masih inget saat itu lagi hot-hot nya piala dunia. Euforia world cup itu ampe terasa ke berbagai lapisan masyarakat, bro. Yang tadinya ga suka bola pun akhirnya noonton bola juga. Dan ini terjadi pada nyokap gue.
Gue lupa tepatnya hari itu kita lagi liat siapa-lawan-siapa.
Pas lagi-asik-asiknya nonton bola, nyokap gue nyeletuk, “Ih budak! Ih budak!”
Sontak gue sama adek-adek gue penasaran dengan maksud nyokap. Apanya yang
budak? Budak apaan?
“Apaan sih, ma? Budak apaan?”
“Itu liat! Tuh, tuh, dia budak! Yang itu juga budak!”
“Yang itu?” Gue nunjuk salah satu pemain bola yang lagi
disorot kamera. Terus, apa yang salah sama dia? Gue makin bingung maksudnya
nyokap budak itu apaan.
“Apaan yang budak? Dia pemain bola kali, ma. Jelas-jelas dia
lagi main bola,”
“Dia itu bekas budak, Ge. Liat!”
“Enggak ada yang salah sama dia, Maaaa…”
“Dia itu bekas budak. ORANG KULIT HITAM ITU DULUNYA BEKAS
BUDAK!!”
WHAAAAAAAAAAATTTT?!!
MAAAAAAAAAAAAAAA, DO YOU MEAN IT MAAAAAA??
Rasanya kayak ditusuk dengan bermilyar-milyar jarum. Hati
gue bukan lagi cenat-cenut apalagi jedag-jedug.
MA, NYADAR KAGAK SIH MA, ANAK MAMA ITU KULITNYA
ITEEEEEEEMMMM??
Ini namanya mau ngasih tau kebenaran tapi berusaha secara
halus. TOLONGLAH, MAAA….
Inikah takdir hamba, ya Allah? Inikah takdir hamba? Apakah
ibunda saya merasa hina memiliki anak berkulit hitam ya Allah? Apa dosa hamba,
ya Allah?
Hati gue panas. Gue mulai nyautin pernyataan nyokap.
“Ma, enggak juga kali, Maaa… Orang kulit item ga semuanya
budak kaliii…”
“Enggak, Ge. Zaman dulu itu mereka budak. MEREKA BEKAS
BUDAK, GE!!”
PRAAAANNGG!!!
Hati gue pecah. Gue diem. KULIT HITAM = BUDAK. Mampus gue.
Yaudah, terserah nyokap gue aja. Saya pasrah.
January 19, 2012
A Whole New World
A Whole New World
I can show you the world
Shining, shimmering, splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide?
I can open your eyes
Take you wonder by wonder
Over, sideways and under
On a magic carpet ride
A whole new world
A new fantastic point of view
No one to tell us no
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world
A dazzling place I never knew
But when I'm way up here
It's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
Now I'm in a whole new world with you
Unbelievable sights
Indescribable feeling
Soaring, tumbling, freewheeling
Through an endless diamond sky
A whole new world
Don't you dare close your eyes
A hundred thousand things to see
Hold your breath - it gets better
I'm like a shooting star
I've come so far
I can't go back to where I used to be
A whole new world
Every turn a surprise
With new horizons to pursue
Every moment red-letter
I'll chase them anywhere
There's time to spare
Let me share this whole new world with you
A whole new world
That's where we'll be
A thrilling chase
A wondrous place
For you and me
Shining, shimmering, splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide?
I can open your eyes
Take you wonder by wonder
Over, sideways and under
On a magic carpet ride
A whole new world
A new fantastic point of view
No one to tell us no
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world
A dazzling place I never knew
But when I'm way up here
It's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
Now I'm in a whole new world with you
Unbelievable sights
Indescribable feeling
Soaring, tumbling, freewheeling
Through an endless diamond sky
A whole new world
Don't you dare close your eyes
A hundred thousand things to see
Hold your breath - it gets better
I'm like a shooting star
I've come so far
I can't go back to where I used to be
A whole new world
Every turn a surprise
With new horizons to pursue
Every moment red-letter
I'll chase them anywhere
There's time to spare
Let me share this whole new world with you
A whole new world
That's where we'll be
A thrilling chase
A wondrous place
For you and me
January 17, 2012
Pemilihan Diksi itu Penting
Proses transformasi seorang gadis cilik menjadi dewasa
adalah haid, atau datang bulan, atau menstruasi, atau yang disingkat jadi mens.
Dan hal inilah yang membuat gue bingung setengah mati waktu
gue seumuran anak kelas 3 SD. Ini adalah hal yang membuat goyah, rasanya
seperti ingin meyakini sesuatu hal tapi dasar keyakinannya sendiri ga ada. Ok,
let’s take a look how this stuff made me so confused at that time.
Waktu itu seorang tetangga gue lagi main-main ke rumah. Si
ibu ini biasa dipanggil “Ibu Icas” karena nama anak pertamanya Icas. Sama kayak
nyokap gue yang dipanggil oleh kalangan ibu-ibu sebagai “Mama Gea” karena anak
pertamanya gue. Percakapan pun terjadi antara nyokap dan Ibu Icas.
Ibu Icas : “Udah
sholat, Ma?”
Emak : “Lagi enggak”
Jengjeeeeennggg…. Apa-apaan nih maksudnya “lagi enggak”?
Saat itu gue berpikir, ANJRIT NYOKAP GUE PINDAH AGAMA?!!
Ibu Icas : “Lagi cuti
ya, Ma?”
Emak : Cuma ngangguk
Gue notabene ga terima dengan jawaban nyokap. Gue memberontak.
Gue : “Maksudnya lagi cuti?”
Gue memandang nyokap, memandang Ibu Icas, alis kanan naik
satu centi, bibir bagian kiri naik dikit, lobang idung diperbesar. Gue siap
menerima jawaban.
Ibu Icas : “Lagi mens,
Uniii…”
Gue : “Hah? Apaan
tuh?”
Ibu Icas : “Aduuhh apa
yaa… Menscret.”
Gue : “Hah? Menscret?
Maksudnya mencret? Jadi kalo lagi mencret ga boleh sholat?”
Ibu Icas : “Iya,
dilarang sama Allah.”
Hari itu gue mendapatkan pelajaran berharga. MENCRET =
DILARANG SHOLAT.
Beberapa hari setelah percakapan itu, entah ada angin apa gue
mencret-mencret. Mencret parah. Dan tentu saja, saat itu gue enggak sholat.
Emak : “Ge, udah
sholat belom?”
Gue : “Lagi
enggak sholat, Ma. Lagi cuti?”
Emak : “Cuti apaan?
Sholat itu wajib. Apapun kondisinya harus dilaksanakan.”
Gue : “Gea lagi
mencret, Ma. Kan kata mama waktu itu kalo lagi mencret ga boleh sholat.”
Walopun gue udah mengatakan apa yang gue yakini, namun saat
itu nyokap ga terima sama jawaban gue. Nyokap marah besar dan langsung nyuruh
gue sholat. Gue bingung. Harus semencret apakah seseorang sehingga
diperbolehkan tidak sholat? Haaru semencret apakah ia? Harus seberapa parahkah
mencretnya? Dilema.
Setelah kejadiaan itu, gue tetep sholat walopun gue lagi
mencret. Bahkan ketika lagi mencret parah pun, gue sholat.
Pernah juga suatu sore, masih dengan lako yang sama, nyokap dan
Ibu Icas. Saat itu, masih dengan aktivitas yang sama, ngobrol di rumah gue.
Ibu Icas : “Udah
sholat, Ma?”
Emak : “Lagi
enggak, Bu”
Gue enggak terima. Kalo sampe alesannya karena mencret, GUE
GAK TERIMAAAAAAA!!!
Gue : “Hah? Emang
kenapa?”
Ibu Icas : “Mama lagi
sakit, jadi enggak boleh sholat.”
Njelb. Mampus. Nyokap sakit. Kenapa dia ga bilang-bilang?
Nah loh? Sakit apaan dia? Bahaya.
Gue : “Hah? Sakit?
Mama sakit?”
Emak : “Hmm… iya
sih. Makanya ga boleh sholat.”
Beberapa bulan setelah itu, gue sakit flu beserta demam. Dan
tentu saja, gue enggak sholat.
Emak : “Ge, sholat
dulu yuk. Minta sama Allah biar disembuhin?”
Gue : “Lah kan
Gea lagi sakit, Ma. Masa’ disuruh sholat?”
E mak : “Karena lagi
sakit itulah, makanya sholat biar nanti disembuhin Allah.”
Gue : “Mama
ngerti ga sih? Gea lagi sakit, Ma. S-A-K-I-T. Sakit. Enggak boleh sholat, Ma.”
Emak : “Siapa yang
ngajarin kalo sakit ga boleh sholat?”
Gue : “Lah? Mama pernah
ngomong, ‘Mama lagi sakit, jadi ga boleh sholat’, gituuu…”
Emak : “BUKAN SAKIT
KAYAK GINI!! CEPETAN SHOLAAAAAATTT!!!”
Nyokap gue murka.
Gue beranjak dari tempat tidur dan bergegas ngambil air
wudhu. Gue sholat walopun gue sakit. Padahal gue yakin kalo Allah ngelarang gue
sholat, karena gue sakit.
Pas udah rada gedean, gue mikir, kenapa gue dulu otak gue
sakit ya? Otak sakit, jiwa juga sakit, kelakuan pun sakit. Kehidupan gue sakit.
Ya ampun, tobat deh…
Well, it’s kids. Anak-anak bakal nerima apa aja yang
diomongin oleh orang tua mereka, bahkan lingkungan mereka. Mereka penuh tanda tanya, banyak hal yang ingin mereka ketahui. Mereka penasaran dengan semua hal
baru. Dan mereka akan dengan senang hati mendengarkan hal-hal baru. Dengan
tingkat keingintahuan tinggi, makanya perlu hati-hati sama pertanyaan mereka
dan perlu hati-hati juga dalam menjawab.
Dan hati-hati juga dalam pemilihan kata. Kalo salah tangkep,
artinya bisa beda.
Seandainya sampe sekarang gue meyakini apa yang dikatakan
nyokap dan Ibu Icas waktu itu, mungkin setiap abis makan maicih gue ga akan
pernah sholat. Ya salaaaaaaammm…
January 15, 2012
AYEEAAAHH... Welcome Holiday!!
UAS SELESE KAWAAAAAANNN....
YEEEEAAAAAAAHHH... OYEEEEAAAHHH.... *lempar bantal, lempar guling, lempar laptop*
Iya, gue baru liburan. Ada yang belom liburan? Ih kasian deh lo! Ada yang udah liburan? Ih sombong!!
Sebenernya rada ga suka juga nih gue sama jadwal liburan kali ini soalnya jadwal liburan kuliah gue ga barengan sama jadwal liburan sekolah adek gue. Ini membuat ketidakharmonisan dalam keluarga gue menjadi-jadi. Disaat adek-adek gue pengen menghabiskan liburan, gue malah ga bisa kemana-mana gara-gara lagi UAS. Tentunya ini membuat adek gue, especially yang paling kecil, ngamuk parah karena menghabiskan liburan di rumah. "Aku mau kegembiraan, mah. Aku kesepian disini, aku sedih. Aku pengen jalan-jalan, mah. Ke mall kek, ke puncak kek, ke pantai, aku bosen di rumah teruuusss."
Suatu hari, ketika sehabis UAS hari itu, gue dan temen-temen duduk-duduk di kantin. Kita mulai ngobrolin liburan, mau kemana, kapan, budget berapa, dan segala tetek bengeknya. Dan akhirnya tercetuslah untuk pergi ke Bali barengan sama temen gue si Gadis @gadisputri bersama sepupu2nya. Gue excited banget saat itu. Tapi sayang beribu sayang, lampu hijau dari nyokap tak kunjung menyala, akhirnya rencana ini batal.
Next plan is we're getting have fun in Jogja. Wew, kebetulan nih karena gue bisa sekalian ketemu temen gue yang di Jogja. Rencana ini tentunya membuat gue ngebet pengen ngebakar UAS biar cepet-cepet liburan. Dan topik liburan saat itu dihancurkan oleh temen gue, tikatut a.k.a tikacot @dwimustika
Suatu hari, ketika sehabis UAS hari itu, gue dan temen-temen duduk-duduk di kantin. Kita mulai ngobrolin liburan, mau kemana, kapan, budget berapa, dan segala tetek bengeknya. Dan akhirnya tercetuslah untuk pergi ke Bali barengan sama temen gue si Gadis @gadisputri bersama sepupu2nya. Gue excited banget saat itu. Tapi sayang beribu sayang, lampu hijau dari nyokap tak kunjung menyala, akhirnya rencana ini batal.
Next plan is we're getting have fun in Jogja. Wew, kebetulan nih karena gue bisa sekalian ketemu temen gue yang di Jogja. Rencana ini tentunya membuat gue ngebet pengen ngebakar UAS biar cepet-cepet liburan. Dan topik liburan saat itu dihancurkan oleh temen gue, tikatut a.k.a tikacot @dwimustika
Tikatut : “Beneran nih
ya ke Jogjaaa..”
Gue : “Ya
insyaallah tut, gue bilang nyokap dulu”
Tikatut : “Eh gue ga
mau deh, IHHH… GUE MAALLUUUU…”
Gue : “Apaan sih
lu tut?”
Tikatut : “Gue ga mau
sekamar ama lo, Ge… GUE GAK MAU SEKAMAR AMA COWOK!!”
MEEENNN!! MEMBARA DADA INI RASANYA DENGER KATA-KATA ITU
TUUUTTT!!
GUE MASUKIN DENGKUL GUE KE LOBANG IDUNG LU, MODAR LU TUT!!!
Teman macam apa dia, ya Allah… Teman macam apa yang kau
berikan kepada hamba, ya Allah… Dosa apa hamba? Dosa apa dirinya? Ampuni
dosa-dosa kami ya Allah…
Rencana ke Jogja pun akhirnya batal demi keselamatan lobang
idung tikatut.
Well, rencana
liburan kali ini pun ga terlalu buruk kok, Malah dapat diperkirakan gue bisa having fun to the max, Ihiy. Stok film
gue udah banyak, bisa dikatakan bejibun, buku-buku bacaan juga banyak, terus
ada rencana mau bikin beberapa kerajinan tangan yang biasanya emang gue lakuin kalo
liburan doang, terus ada rencana mau ke Japan Foundation juga karena udah lama
ga kesana, ada liburan angkatan juga bareng anak2 Kimia rencananya dan semoga
jadi, plus hangout bareng temen-temen serta reuni kecil-kecilan. Ah, sounds that I’m going to have so much fun.
Yeay!!
Dan liburan ini diawali dengan jalan-jalan bareng bersama
keluarga besar Himpunan Mahasiswa Departemen Kimia UI ke Mega Mendung dari hari
Jumat kemaren sampe hari Sabtu. Liburan ini sakses membuat badan memar-memar,
sakit tak tertahankan, dan demam ringan akibat ujan-ujanan. Tapi pengalamannya
itu loh boo…. Super maksimal.
Awalnya gue rada males ikut acaranya, tapi pengen ikutan
juga. Ya emang dasarnya gue tipe orang plin-plan, jadi kalo mau memutuskan
sesuatu emang rada lama. Akhirnya gue berangkat juga karena kedengerannya nih
acara bakalan asik. Oke gue berangkat. Dan di jalan ternyata ujan. Ini nih
klimaksnya. Nyokap nelpon nanya udah dimana-lah, lagi ngapain-lah, dan segala
macam pertanyaan ini-itu, akhirnya nyokap gue tersayang, berbicara dengan nada
dan intonasi tinggi, “PULANG KAMU SEKARANG!! HUJAN, NANTI BANJIR, LONGSOR.
PULANG SEKARANG!! GAK USAH IKUT!!” Nah
loh? Ga sesuai kesepakatan kemaren malem nih, kata gue dalem ati. Tapi gue
tetep nekat pergi. Gue udah nyampe kampus masa pulang lagi? Kan gue jadi ga
hot.
Alhamdulillah gue tetep pergi. Karena acaranya subhanallah
oke banget plus pemandangan sama hawa dinginnya itu loh yang nambah poin plus.
Villanya pun jauh dari kesan suram, bahkan boleh dibilang villanya kece abis.
Posisi villanya itu, beeuhhh… oke banget karena langsung bisa ngeliat
pemandangan gunung plus ijo-ijo di depannya.
| Pemandangan di depan Villa. Rada gelap soalnya mendung. |
Pengalaman yang paling tak terlupakan itu adalah saat river
tracking. INSANE!! Siapapun yang memiliki ide untuk river tracking itu adalah
orang gila! PARAH!! Serunya itu PARAH BANGET!! Fun-nya itu PARAH BANGET!! Dan
dinginnya itu PARAH BANGET!!
Ada yang tahu river tracking? Kalo gue ngebayangin apa yang
udah gue lakuin kemaren, itu semacam program acara TV bertajuk petualangan di
alam yang mana lo bisa menaklukkan alam. Karena judulnya river, maka gue main
air di sungai. Saat itu ujan deres dan arus sungai nampaknya kurang bersahabat.
Sungai itu diapit oleh tebing tinggi. Nah, di tepi-tepi tebing itu ada
batu-batu yang bisa kita injekin. Jadi gini cerita tracking-nya. Kita menyusuri
sungai, nginjekin batu-batu tersebut di sisi salah satu tebing sambil
berpegangan ke tebing tersebut. Salah injek ato salah pegang, lo bakalan hanyut bearsam arus. Well, kalo arusnya ga kenceng-kenceng amat sih ya mungkin lo bisa
berenang, tapi keadaan saat itu adalah arusnya yang tidak bersahabat alhasil
kalo lo hanyut ya lo berenang bersama arus.
Makanya sebelum tracking harusnya lo sahabatan dulu sama si
sungai. Salah gue saat itu adalah gue menolak nraktir si sungai minum wedang
jahe.
Derasnya arus sungai dibuktikan dengan hilangnya kacamata
salah satu temen gue. RIP men. Hanyut entah kemana. Semoga arwahnya tenang di
sisi-Nya. Amin.
Yang paling menegangkan adalah ketika kami diharuskan
menyebrangi sungai dari tebing satu ke tebing lainnya. Caranya adalah kami
berpengan di seutas tali yang di pegang sama abang-abangnya (read: guide). Ini
yang tersulit, my bro. Saat gue udah hampir sampe di ujung tali satunya, gue
harus menginjakkan kaki ke sebuah batu, kata abang-abangnya, yang berarti gue
harus menegakkan badan.
“Disitu ada batunya, neng. Injek batunya!! Injek!!”
“Yang mana bang? Ga ada. Oh ini diaaa!! Aduh susaaahh…”
Panik. Tenaga gue abis buat melawan arus supaya pegangan gue
ga lepas dari tali sedangkan gue masih harus berupaya nginjek batu yang naujubile
susahnya gara-gara kaki gue harus bertanding ngelawan arus. Sekalinya nyampe ke
batu, kaki gue dihantam lagi sama arus. Akhirnya si abang-abang itu menyodorkan
tangannya, gue menatap mantap, gue yakin sepenuhnya. Gue menyambut tangan si
abang, dan akhirnya kami menikah, hidup sederhana di sudut perkotaan, dan memiliki dua anak.
Ah, fail.
Gue menyambut tangan si abang, “Tolongin ya, bang”. Hasilnya
gue berhasil nyebrangin tuh sungai. Mission Complete.
Gue dan beberapa teman berhasil menyebrang. Tapi karena
arusnya yang makin menggila, perjalanan kami menyusuri sungai pun terpaksa
dihentikan karena arusnya yang makin tidak bersahabat. Sayang sekali, karena
temen-temen yang lain ga bisa nyoba ke tahap ekstrem tersebut, menyebrangi
sungai.
Perjalanan bersama keluarga besar HMDK 2011 bener-bener tak terlupakan. Penuh ide gila tapi tetap menghangatkan walaupun hawa disana sakses bikin badan menggigil. Hmm.. benar-benar mengantarkan sepenuh hati :)
Ini beberapa foto yang diambil.
Kesan yang tertanam adalah SERU!! Kapan ngumpul bareng lagi teman2?
Ah liburaaaann... Membayangkannya saja mengasyikkan :)
Have a nice holiday, guys!!
January 08, 2012
New Me
Berbahagialah kalian yang memiliki mimpi besar.
Berbahagialan kalian yang bercita-cita untuk melanjutkan
studi ke negeri impian.
Berbahagialah kalian yang masih memiliki tujuan.
Sekitar 3 hari yang lalu, gue sama tante gue lagi ngobrol
soal adek gue yang mau ikut SNMPTN.
Tante : “Iya, dia
kayaknya santai benget belajarnya”
Gue : “Ya, emang
model belajarnya kayak gitu kali, ga keliatan”
Tante : “Beda banget
ya sama Coya (read: gue). Kalo Coya kan dari kelas 2 udah prepare, belajar
kayak orang kesurupan”
Nyes. Ngena banget. Tau-tau air mata keluar. “Udahlah, ga
usah bahas gituan” gue menimpali à
take action, buka buku, nunduk kepala, belajar, eh nangis ding.
Iya, gue udah prepare buat UAN, dan segala jenis tes masuk
perguruan tinggi itu dari kelas 2 SMA. Mulai belajar kayak orang kesurupan,
pulang sekolah langsung pulang (oh ini dari kelas 1 emang udah kayak gini sih),
kalo ga langsung pulang ya ke perpus belakang sekolah.
Apa yg gue lakukan?
Belajar, ngerjain soal, nyicil materi yg belom dibahas ama
guru, ngulang pelajaran, bikin resume, beserta keluarga. Bangun jam setengah 3,
tahajud, belajar ampe pagi, terus berangkat sekolah.
Apa dampaknya?
Jadi orang freak. Gue ngerasa gue dulu itu freak abis. Cupu,
enggak tau dunia luar. Yang gue tau cuma belajar. Ikut organisasi ga pernah,
ikut main sama temen jarang banget. Gue ga ngerti sama musik terkini, ga ngerti
sama trending topic saat itu ketika gue remaja. Gue ga tau apa-apa. Dan dampak
yang lebih parah adalah I am the ignorant
person. Gue bukan siapa-siapa. Bukan orang yang wow, tapi juga bukan
sampah. Gue ada, tapi mereka ga sadar kalo gue ada.
Waktu itu gue berniat sepenuh hati mau lanjut studi ke luar
negeri. Gue udah mulai nyari-nyari beasiswa S1 dan yang menawarkan beasiswa
penuh + living cost saat itu adalah Singapura dan Jepang. Mulailah gue menggali
info. Oke, gue mulai buka websitenya, cari tau gimana caranya, ngirim email ke
bagian pendidikannya buat nanya-nanya. Nah, waktu itu gue lagi iseng buka
websitenya SMA 8 jakarta dan disitu ditulis nama siswa beserta PTN yang dia
terima. Ternyata lumayan banyak banget anak 8 yang diterima di Singapur.
Mulailah gue kepo. Gue googling nama mereka satu-satu sampai akhirnya gue
menemukan beberapa nama dan langsung gue message di FB!! Dengan tingkat
kesotoyan maksimal, gue tanya-tanya ke mereka gimana caranya tembus, belajar
disana gimana, apa yang mereka lakuin pas lulus, persiapannya apa aja, dan
banyak hal lah yah. Sumpah itu sotoy banget, men! Itu berasa kayak gue bakal
diterima aja tuh. Sok-sokan banget nanya kayak gitu. Yah, tapi gue bertindak
kayak gitu karena faktor bacaan kali ya bu, soalnya kata buku yang gue baca,
kalo lo yakin insyaallah dapet. Dan saat itu gue ga ngerti gimana ngebedain
antara yakin sama sombong.
Hmm, buat yang pernah gue tanya-tanya soal beasiswa
Singapur, maaf atas ketidaksopanan dan kesotoyan gue. Gue minta maaf maksimal.
Perihal beasiswa Jepang, gue rada ga susah nyarinya karena
gue udah dapet info, kalo mau nanya-nanya soal beasiswa itu di Japan
Foundation, Sumitmas. Berangkatlah gue ke sana. Ada kali gue sejam lebih di
ruang Jasso (lembaga yang ngurusin beasiswa dan segala bentuk studi ke Jepang).
Ampe puas gue nanya-nanya, ampe gue apal tiap kata-kata yang si mbak Jasso
ucapkan, ampe gue menanyakan hal yang udah gue tanya sebelumnya. Ampe mbaknya
apal sama gue.
Beberapa bulan setelah gue ke Jasso, ternyata Japan Fundation
ngadain acara scholarship expo,
datenglah gue ke acara tersebut. And
guess what, gue ketemu mbak2 Jasso yang ngeladenin gue waktu itu. “Eh,
kamu!! Dateng lagi!”
Yang gue incer saat itu adalah beasiswa dari pemerintah
Jepangnya karena hidup lo udah terjamin, lo tinggal belajar aja disana masbro.
Kemudian pas gue lagi buka FB, ternyata ada beasiswa Jepang
dari Mitsui Bussan. Gue sontak kegirangan. Nih beasiswa jarang banget orang
yang tau, setidaknya chance gue lolos gede. Gue berdoa aja waktu itu. Ya udah
tuh kan ya, gue langsung nyiapin berkas, bikin surat pernyataan ini-itu di
sekolah, ngadep kepala sekolah yang ngeliat gue dengan tampang “lo yakin bro?
ELO? DEMI APA ELO IKUTAN?”. Gue bikin beberapa surat dalam bahasa inggris waktu
itu. Dikarenakan bahasa inggris gue yang ancur lebur, maka surat yang gue buat
itu salahnya, innalillahi, banyaknya bukan main. Malu lah gue bro saat itu.
Buset, gue pede dahsyat mau ngajuin beasiswa tapi bahasa inggrisnya bego parah.
Tapi sakses sih waktu itu gue ngurus suratnya. Lanjut kan tuh gue ngasih
berkas-berkasnya ke Univ Darma Persada ato mungkin lebih dikenal Unsada kali ya
bu.Oke sip, gue tinggal tunggu panggilan kalo berkas-berkas gue lolos seleksi.
Email dari panitianya itu 11 Mei, dan gue dinyatakan lolos
berkas. Ya ampus demi Allah waktu itu gue senengnya minta ditabokin. Cuma lolos
berkas doang padahal tapi gue jejingkrakan ga karuan. Oke kan tuh, gue baca
lampirannya. Disitu dia bilang kalo ujian tanggal 24 Mei. Beuh, setelah
pengumuman SIMAK UI tuh, 15 Mei.
Disini nih ancurnya, gue ga diterima SIMAK UI. Parah, gue
stress maksimal waktu itu. Depresi tingkat dewa. Dua tahun men gue nyiapin buat
tes-tes kayak ginian, tapi tetep aja ga lulus. Emang dasarnya bego, susah masuk
ke golongan kaum pintar. Gue keilangan akal waktu itu, ga mau lagi gue sama yg
namanya belajar. Kerjaan gue cuma nangis. Tiap pulang sekolah pasti nangis gue.
Mata gue udah lebam kayak ditonjokin orang. Mata gue udah sepet gara-gara gue
nangis mulu. Efeknya ke yang lain, gue ga mau ikut tes-tes kayak gini lagi. Gue
bikin kesimpulan sendiri aja waktu itu, ga bakal lulus kemana-mana. Buat apa
gue nyoba lagi? Buang waktu.
Efek inilah yang kemudian merambat ke beasiswa Bussan. Gue
ga belajar men. Sekenanya aja. Belajar juga kalo ada nyokap doang. “Kamu mau
ujian Bussan kan? Belajar ya?” Dalem ati, yang penting nyokap ngeliat gue
belajar. Pas nyokap keluar kamar, ya gue nangis lagi lah. Itu jadi rutinitas
gue saat itu.
Yang ikutan beasiswa Bussan, sumpah dikit. Tapi bukan jumlah
orangnya yang dipermasalahkan, tapi orang-orangnya, bro. Sumpah, gue kanalan
sama orang Aceh! GILA!! Dia bela-belain ke kalimalang men buat ikut ujian. Dan
dari Jawa, beuh naujubille banyaknya. Ini nih yang ngebuat gue bingung. Orang
dari daerah banyak banget yang bela-belain dateng, tapi orang dari sekolah gue?
Yang ikutan cuma gue doang. Sayang banget padahal, sekolahan sama tempat
ujiannya aja deket.
Soal ujiannya itu diluar ekspektasi gue. Soalnya ga
setingkat dewa, ini soal biasa. Demi apapun, itu dibutuhkan ketelitian dan
kesabaran dalam menghitung. Gue nyesel parah waktu itu, gue ga belajar
soalnyaaaa… Ada jalan hitungan yang gue blank. Dan saat itu gue emang lagi
krisis kepercayaan diri, jadi sambil ngerjain soal ya ngedumel “ah bego, elu
bego, lulus disini ga mungkin. SIMAK aja ga lulus, ngarep ke Jepang”
Hasilnya, gue ga lulus. Yeah, I have predicted this fucking
result.
Oke, gue tetep lanjut ngajuin beasiswa ke Jepang yang
diadain dari pemerintah Jepangnya sendiri. Ini gue masih sotoy dan belagu
parah. Apa coba yang mau gue bawa? Okelah saat itu nilai raport gue memang bisa
dikatakan baik, tapi pengalaman organisasi kagak ada acan-acan pisan,
pengalaman kepanitiaan nihil, terlibat dalam kegiatan sosial juga boro-boro,
menang olimpiade juga cumin ngimpi, pengalaman ikut lomba juga nol besar. Apa
coba yang gue bawa? Bego iya deh gue bawa.
Tetep nekat men.
Gue ke kedubes bareng temen. Nyerahin berkas dan segala macemnya.
Fuckyeah, naro berkas doang, selanjutnya bodo amat. Ini pun yang nyemangatin
buat naro berkas itu emak gue “Coba aja, Ge, kan kamu emang dari dulu pengen
nyoba kan?” Ya pengen sih, tapi itu sebelum pengumuman SIMAK. Setelah
pengummuman itu, kebukti 2 tahun belajar pun percuma men, Yang namanya bego ya
pasrah aja. Karena ga enak juga ama nyokap, gue lanjut juga waktu itu. Gue
ngitung-ngitung nilai rapor buat nentuin mau ngambil d3 ato s1. Karena memenuhi
persyaratan nilai, rata-rata nilai 8.4, akhirnya gue ambil s1 teknik kimia industri
kalo ga salah.
Gue lolos berkas lagi. Kali ini gue lemes pas tau. Jadi
ceritanya ada yang nelpon ke hape gue dua kali. Gue masih tidur tuh, pas gue
bangun, weh ada miscall, tapi ga tau dari siapa, ga ada kontaknya kan di
phonebook gue. Yaudah gue diemin. Ga lama abis itu, nyokap nelpon, katanya dia
ditelpon sama kedutaan dan orang dari kedutaan bilang gue bisa ikut ujian
tertulis. Terus nyokap bilang kalo daritadi si orang kedutaan udah nelponin gue
tapi ga dijawab. Ya udah tuh, si nyokap nyuruh gue buat belajar lagi. Gue ga
mau. Gue ga mau ikut ujiannya. Gue udah males ditolak mulu. Gue malu gagal
mulu. Gue malu sama waktu yang gue pake buat belajar, yang ngefek gue jadi “the
ignorant person” di sekolah. Gue malu sama temen-temen sekolah kalo gue gagal
lagi.
Tapi nyokap tetep nyemangatin gue. Ya akhirnya gue berangkat
juga pas hari ujiannya. Gue ujian di ruang auditorium Pusat Studi Jepang UI.
Gile, kampus ternama men. Dan sumpah, yang ikut ujian banyaknya udah kayak
apaan tauk. Jiper gue liat orang sebanyak itu. Mereka terlihat luar biasa, dan
gue cuma terlihat seperti sampah. Tetep aja nekat masuk ruang ujian. Di samping
gue, cowok, ternyata dia ikut beasiswa Bussan juga, dan belom diterima. Tapi
asyiknya, dia udah diterima di UGM. Gue ga tau kabarnya gimana sekarang, bahkan
namanya aja gue lupa.
Selepas ujian, yaudah pasrah aja. Dan emang ga diterima sih.
Ya, heaven banget lah rasanya kalo gue diterima, lah wong modal gue nilai rapor
doang.
Semenjak itu, gue males banget belajar, sampe sekarang. Gue
ga mau men kayak dulu lagi, cewek yang taunya cuma belajar. Kemana waktu gue
yang dulu? Diabisin sama belajar doang. Sekarang? Gue belajar sekenanya aja,
bro. Ga perlu expert-expert sama hal yang ga disuka. Sekarang gue mau explore,
mau nyoba yang ga pernah gue rasain. Gue mau tau caranya nyari temen, mau
ngerasain pengalaman terlibat di kepanitian, organisasi, pengen ngerasain yang
namanya main sehabis pulang ngampus, pengen nyoba yang namanya cabut. Semua
pengen gue coba. Gue ogah men balik kayak dulu lagi. Sekolah-pulang-belajar,
monoton. Idup apaan kayak gitu.
Mimpi buat ngelanjutin studi ke luar negeri pun mulai ciut.
Udah berasa patah arang aja gue. Well, adek gue juga ngeremehin gue sih, ya
males aja gue jadinya buat nyoba lagi. IP pas-pasan, ya yang penting muka tebel
aja gue mah. Yang jelas, ogah banget gue belajar kayak orang kesurupan seperti
dulu. NOOO!!!
December 31, 2011
New Year
Wow, detik-detik pergantian tahun nih, guys!! Hampir setahun
juga gue ngeblog. Alhamdulillaaaaahh…
Jelang pergantian tahun, orang-orang pada ribut soal
resolusi, entah itu resolusi tahun ini atau resolusi untuk tahun mendatang.
Pada mengoreksi diri ceritanya, apakah tahun ini telah berjalan sesuai harapan mereka, dan harapan apa yang akan dilakukan untuk tahun
mendatang.
Kece banget.
Gue akui kalo gue bukanlah orang yang seperti itu. Kalo gue,
rencana hidup itu ga harus gue susun pas tahun baru, gue nyusunnya kalo inget
aja. Makanya idup gue berantakan kayak muka gue.
Dulu sempet buat sih, pas gue masih jadi remaja ababil.
Ikut-ikutan kayak yang dilakukan orang banyak. Resolusi tahun baru itu wajib gue buat biar gue ada tujuan di tahun mendatang.
Dan tujuan tahun baru gue selalu sama, jadi PUTIH.
Alasannya gue membuat resolusi tersebut saat gue masih
ababil adalaaaahh…
GUE BOSAN HIDUP SEBAGAI ORANG BERKULIT HITAM!!
Maka point tersebut adalah tujuan hidup gue selama
satu tahun mendatang.
Apa yang gue lakukan? Gue mulai mengurangi main keluar
rumah. Kata orang-orang, kalo ngerem mulu di rumah, ntar jadi putih. Gue
ikutilah kepercayaan orang2 tersebut.
Iye gue tau yang lo pikiran. Dan gue pastikan itu benar. Gue
tetep item. Gapapa, gapapa, gue sabar.
Ada juga yang bilang, kalo mau putih itu harus mandi susu.
Oke,saat itu gue bertekad akan rutin mandi susu. Gue nanya ke nyokap, “Ma, gea boleh
pake susu Dancow? Gea mau mandi susu mah kayak orang-orang. Gea minta gulanya
juga ya ma, sekalian.”
MANDI APAAN YANG PAKE GULA COOOOYY?!!
Semenjak itu gue yakin, walaupun tahun akan terus berganti,
resolusi gue bakalan tetep sama. Jadi ngapain gue tulis?
Itu gambaran singkat soal gue. Tapi gue yakin kok kalo
resolusi kalian pasti keren-keren.
Well,
HAPPY NEW YEAR, GUYS!!
Hope this year will bring us happiness, more.
Subscribe to:
Posts (Atom)